Senin, 27 April 2020

Sejarah Berdirinya Kerajaan Islam Mughal

Kerajaan Mughal merupakan kelanjutan dari kesultanan Delhi, alasannya adalah dia menandai puncak usaha panjang untuk membentuk sebuah imperium India muslim yang didasarkan pada suatu sintesa antara warisan bangsa Persia dan bangsa India. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama yang ada di India.  Jika pada dinasti-dinasti sebelumnya Islam belum memperoleh kejayaannya, maka kerajaan ini justru bersinar dan berjaya. Keberadaan kerajaan ini dalam kala periodisasi sejarah Islam dikenal selaku kurun kejayaan kedua setelah sebelumnya mengalami kecemerlangan pada abad dinasti Abbasiyah.  Latar Belakang Sejarah Berdirinya Kerajaan Islam Mughal Kerajaan Mughal atau disebut juga Moghul ini didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530 Masehi) salah satu dari cucu Timur Lenk. Ayahnya Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi kawasan Ferghana dari orang tuanya saat beliau masih berusia 11 tahun.  Ia berambisi dan bertekat akan menaklukkan Samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada kala itu. Pada mulanya, dia mengalami kekalahan, tetapi karena menerima pertolongan dari Raja Syafawi, Ismail I karenanya berhasil menaklukkan Samarkand pada tahun 1494 Masehi.  Pada tahun 1504 Masehi, beliau menduduki Kabul, ibu kota Afganistan. Setelah Kabul mampu ditaklukkan, Babur meneruskan ekspansinya ke India. Kala itu Ibrahim Lodi, penguasa India, dilanda krisis, sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Alam Khan, paman dari Ibrahim Lodi, bantu-membantu Daulat Khan, Gubernur Lahore, mengantardelegasi ke Kabul, meminta santunan Babur untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim Lody di Delhi. Permohonan itu langung diterimanya.  Pada tahun 1525 Masehi, Babur berhasil menguasai Punjab dengan ibu kota Lahore. Setelah itu, dia memimpin tentaranya menuju Delhi. Pada 21 April 1526 M, terjadilah peperangan yang dahsyat di Panipat. Ibrahim Lody beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam peperangan itu. Babur memasuki kota Delhi sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahannya di sana.  Dengan demikian berdirilah Kerajaan Mughal di India. Dari pertimbangan di atas, sesuatu yang dapat disepakati bahwa Kerajaan Mughal merupakan warisan kebesaran Timur Lenk, dan bukan warisan keturunan India yang asli.  Meskipun demikian, Dinasti Mughal telah memberi warna tersendiri bagi peradaban orang-orang India yang sebelumnya identik dengan agama Hindu. Babur bukanlah orang India. Syed Mahmudunnasir menulis, “Dia bukan orang Mughal. Di dalam memoarnya beliau menyebut dirinya orang Turki. Akan tetapi, cukup aneh, dinasti yang didirikannya dikenal selaku dinasti Mughal.  Sebenarnya Mughal menjadi sebutan lazim bagi para petualang yang suka perang dari Persia di Asia Tengah, dan walaupun Timur (Timur Lenk) dan semua pengikutnya menyumpahi nama itu sebagai nama musuhnya yang paling sengit, nasib merekalah untuk dicap dengan nama itu, dan kini sepertinya terlambat untuk memperbaiki kesalahan itu.” Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor berdirinya Kerajaan Mughal adalah:  Ambisi dan karakter Babur sebagai pewaris ketangguhan ras Mongolia. Sebagai tanggapan atas krisis yang tengah melanda India. Strategi dan Kebijakan Pemerintahan Kerajaan Mughal Selama periode pemerintahannya, kerajaan Mughal dipimpin oleh beberapa orang raja. Dibawah ini yaitu Raja-raja yang sempat memimpin dan memerintah di kerajaan Mughal, antara lain : 1. Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530). Raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Mughal. Masa kepemimpinannnya dipakai untuk membangun fondasi pemerintahan. Awal kepemimpinannya, Babur masih menghadapi ancaman pihak-pihak lawan, khususnya dari kalangan Hindu yang tidak menggemari berdirinya Kerajaan Mughal.  Orang-orang Hindu secepatnya menyusun kekuatan adonan, namun Babur berhasil mengalahkan mereka dalam suatu peperangan. Sementara itu dinasti Lodi berupaya berdiri kembali menentang pemerintahan Babur dengan pimpinan Muhammad Lody. Pada peperangan di bersahabat Gogra, Babur mampu menumpas kekuatan Lody pada tahun 1529. Setahun kemudian adalah pada tahun 1530 Babur meninggal dunia.  2. Humayun (1530-1556). Sepeninggal Babur, tahta Kerajaan Mughal diteruskan oleh anaknya yang bemama Humayun. Humayun memerintah selama lebih dari seperempat kala (1530-1556 M). Pemerintahan Humayun mampu dibilang sebagai kala konsolidasi kekuatan era I. Sekalipun Babur berhasil mengamankan Mughal dari serangan musuh, Humayun masih saja menghadapi banyak tantangan. Ia berhasil mengalahkan pemberontakan Bahadur Syah, penguasa Gujarat yang berniat melepaskan diri dari Delhi.  Pada tahun 1450 Humayun mengalami kekalahan dalam peperangan yang dilancarkan oleh Sher Khan dari Afganistan. Ia melarikan diri ke Persia. Di pengasingan dia kembali menyusun kekuatan. Pada dikala itu Persia dipimpinoleh penguasa Syafawiyah yang bernama Tahmasp.  Setelah lima belas tahun menyusun kekuatannya dalam pengasingan di Persia, Humayun berhasil menegakkan kembali kekuasaan Mughal di Delhi pada tahun 1555 M. Ia mengalahkan kekuatan Khan Syah. Setahun lalu, yaitu pada tahun 1556 Humayun meninggal.  3. Akbar (1556-1605). Pengganti Humayun yakni raja Mughal paling kontroversial. Masa pemerintahannya diketahui selaku kurun kebangkitan dan kejayaan Mughal selaku suatu dinasti Islam yang besar di India. Ketika menerima tahta kerajaan ini Akbar gres berusia 14 tahun, sehingga seluruh persoalan pemerintahan dipercayakan terhadap Bairam Khan, seorang penganut Syi’ah.  Di permulaan era pemerintahannya, Akbar menghadapi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan Shah yang masih berkuasa di Punjab. Pemberontakan yang paling mengancam kekuasaan Akbar yakni pemberontakan yang dipimpin oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra.  Pasukan pemberontak berusaha memasuki kota Delhi. Bairam Khan menyambut kedatangan pasukan tersebut sehingga terjadilah pertempuran dahsyat yang disebut Panipat II pada tahun 1556 M. Himu dapat dikalahkan dan ditangkap, kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Agra dan Gwalior mampu dikuasai sarat .  Setelah Akbar sampaumur dia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang telah mempunyai efek sangat berpengaruh dan terlampau memaksakan kepentingan pemikiran Syi’ah. Bairam Khan memberontak, namun dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 Masehi.  Setelah masalah-duduk perkara dalam negeri mampu diselesaikan, Akbar mulai menyusun acara perluasan. Ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Wilayah yang sungguh luas itu diperintah dalam sebuah pemerintahan militeristik. Keberhasilan perluasan militer Akbar menandai berdirinya Mughal selaku sebuah kerajaan besar.  Dua gerbang India adalah kota Kabul sebagai gerbang ke arah Turkistan, dan kota Kandahar selaku gerbang ke arah Persia, dikuasai oleh pemerintahan Mughal. Menurut Abu Su’ud, dengan kesuksesan ini Akbar berencana ingin mendirikan Negara bangsa (nasional). Maka kebijakan yang dijalankannya tidak begitu menonjolkan spirit Islam, tetapi bagaimana mempersatukan banyak sekali etnis yang membangun dinastinya.  Keberhasilan Akbar memulai masa perkembangan Mughal di India. d. Jahangir (1605-1627). Kepemimpinan Jihangir yang didukung oleh kekuatan militer yang besar. Semua kekuatan musuh dan gerakan pemberontakan berhasil dipadamkan, sehingga seluruh rakyat hidup dengan kondusif dan damai.  Pada kurun kepemimpinannya, Jahangir sukses menundukkan Bengala (1612 M), Mewar (1614 M) Kangra. Usaha-perjuangan penjagaan kawasan serta penaklukan yang ia lakukan mempertegas kenegarawanan yang diwarisi dari ayahnya yakni Akbar.  4. Syah Jihan (1628-1658). Tampil meggantikan Jihangir. Bibit-bibit disintegrasi mulai berkembang pada pemerintahannya. Hal ini sekaligus menjadi ujian terhadap politik toleransi Mughal. Dalam masa pemerintahannya terjadi dua kali pemberontakan. Tahun pertama masa pemerintahannya, Raja Jujhar Singh Bundela berupaya memberontak dan mengacau keselamatan, tetapi berhasil dipadamkan.  Raja Jujhar Singh Bundela lalu diusir. Pemberontakan yang paling ahli datang dari Afghan Pir Lodi atau Khan Jahan, seorang gubernur dari provinsi bab Selatan. Pemberontakan ini cukup menyusahkan.  Namun pada tahun 1631 pemberontakan inipun dipatahkan dan Khan Jahan dieksekusi mati. Pada kala ini para pemukim Portugis di Hughli Bengala mulai berulah. Di samping mengusik keamanan dan toleransi hidup beragama, mereka menculik belum dewasa untuk dibaptis masuk agama Kristen.  Tahun 1632 Shah Jahan berhasil menghalau para pemukim Portugis dan mencabut hak-hak istimewa mereka. Shah Jahan meninggal dunia pada 1657, setelah menderita sakit keras. Setelah kematiannya terjadi perang saudara.  5. Aurangzeb (1658-1707). Aurangzeb menghadapi peran yang berat. Kedaulatan Mughal sebagai entitas Muslim India hampir hancur akibat perang saudara. Maka pada era pemerintahannya dikenal selaku periode pengembalian kedaulatan umat Islam.  Periode ini ialah kala konsolidasi II Kerajaan Mughal selaku suatu kerajaan dan selaku negeri Islam. Aurangzeb berupaya mengembalikan supremasi agama Islam yang mulai kabur balasan kebijakan politik keagamaan Akbar.  6. Bahadur Syah (1707-1712). Raja-raja pengganti Aurangzeb merupakan penguasa yang lemah sehingga tidak bisa mengatasi kemerosotan politik dalam negeri. Raja-raja sehabis Aurangzeb memulai kemunduran dan kehancuran Kerajaan Mughal. Bahadur Syah menggantikan kedudukan Aurangzeb. Lima tahun lalu terjadi perebutan antara putra-putraBahadur Syah.  Jehandar dimenangkan dalam kompetisi tersebut dan sekaligus dinobatkan selaku raja Mughal oleh Jenderal Zulfiqar Khan walaupun Jehandar yaitu yang paling lemah di antara putra Bahadur. Penobatan ini ditentang oleh Muhammad Fahrukhsiyar, keponakannya sendiri.  Dalam peperangan yang terjadi pada tahun 1713, Fahrukhsiyar keluar selaku pemenang. Ia menduduki tahta kerajaan hingga pada tahun 1719 M. Sang raja meninggal terbunuh oleh persekutuan Sayyid Husein Ali dan Sayyid Hasan Ali. Keduanya lalu mengangkat Muhammad Syah (1719-1748). Ia lalu dipecat dan diusir oleh suku Asyfar di bawah pimpinan Nadzir Syah.  Tampilnya sejumlah penguasa lemah bersama-sama dengan terjadinya kudeta ini selain memperlemah kerajaan juga menciptakan pemerintahan sentra tidak terurus secara baik. Akibatnya pemerintahan tempat berusaha untuk melepaskan loyalitas dan integritasnya terhadap pemerintahan pusat.  7. Jehandar (1712-1713). Pada kala pemerintahan Syah Alam (1760-1806) Kerajaan Mughal diserang oleh pasukan Afghanistan yang dipimpin oleh Ahmad Khan Durrani. Kekalahan Mughal dari serangan ini, berakibat jatuhnya Mughal ke dalam kekuasaan Afghan. Syah Alam tetap diizinkan berkuasa di Delhi dengan jabatan sebagai sultan.  Akbar II (1806-1837 M) pengganti Syah Alam, menunjukkan konsesi terhadap EIC untuk mengembangkan jual beli di India sebagaimana yang diharapkan oleh pihak Inggris, dengan syarat bahwa pihak perusahaan Inggris mesti menjamin penghidupan raja dan keluarga istana. Kehadiran EIC menjadi permulaan masuknya dampak Inggris di India.  8. Bahadur Syah (1837-1858). Bahadur Syah (1837-1858) pengganti Akbar II menentang isi kesepakatanyang telah disepakati oleh ayahnya. Hal ini menjadikan konflik antara Bahadur Syah dengan pihak Inggris. Bahadur Syah, raja terakhir Kerajaan Mughal diusir dari istana pada tahun 1885 Masehi. Dengan demikian maka berakhirlah kekuasaan kerajaan Islam Mughal di India.  Itulah pembahasan wacana sejarah berdirinya kerajaan Islam Mughal yang ada di India, agar ada pesan yang tersirat dan pelajaran untuk kita semua. Wallaahu a'lam
Sumber https://dadanby.blogspot.com


EmoticonEmoticon